Jakarta, MCP — Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok menyinggung bahwa masih banyak partai politik nasionalis di Indonesia yang tak bisa mengamalkan nilai-nilai dari Pancasila sebagai ideologi bangsa.
Ini disampaikan Ahok dalam acara peluncuran program mencari pemimpin yang BTP (Bersih, Transparan, dan Profesional) secara virtual, Rabu (17/8).
Ahok menyampaikan ada tiga poin dalam program ini. Pertama sebagai motor gerakan moral Pancasila.
“Ini sebuah gerakan moral Pancasila, artinya gini, kita tidak ingin ada pejabat yang berkuasa itu pengen ganti Pancasila, kira-kira begitu, atau banyak juga oknum-oknum politisi ngaku partai nasional tapi dia tidak beriman Pancasila,” tuturnya.

Ahok turut menceritakan pengalamannya saat mencalonkan diri sebagai Bupati Belitung Timur. Kala itu, kata dia, ada seseorang dari partai nasionalis yang menyangsikan dirinya bisa terpilih.
“Ngomongnya begini ‘kamu mana bisa jadi bupati Hok, kamu kan turunan Cina, Kristen di tempat yang agama mayoritas, jangan mimpi lah kamu ni aneh-aneh saja’,” ucap Ahok.

“Dulu saya dalam hati aneh juga orang ini ngomong Pancasila-Pancasila, tapi kurang beriman, bahwa ideologi itu harus diperjuangkan, harus kita pertahankan, dia sendiri gamang, ini yang gawat,” lanjutnya.
Poin selanjutnya adalah wadah bagi para pelayan rakyat. Dikatakan Ahok, seyogyanya seorang pejabat adalah orang yang mau melayani rakyat. Ahok menyebut jika seorang pejabat tidak mau melayani rakyat, maka dia bukanlah pejabat.

“Siapa yang paling besar kedudukannya, dia harus paling banyak melayani orang, ini rumusnya, jadi siapapun yang mau jadi orang tertinggi di republik ini, dia harus menjadi orang yang paling banyak melayani rakyat,” ucap dia.
Poin terakhir adalah sebagai jembatan digital yang menghubungkan pelayan rakyat dengan rakyatnya. Dalam hal ini, Ahok menyebut pihaknya akan membuat semacam ratting.
Artinya, jika sebuah daerah mengalami masalah, maka ratting pemimpinnya akan turun. Ahok mengibaratkannya mirip ratting di e-commerce.