Daftar Kebutuhan yang Terancam Makin Mahal Karena Harga Pertalite Naik

Media Cyber Pendidikan Media Cyber Pendidikan
0 0
Read Time:2 Minute, 19 Second

Jakarta, MCP — Presiden Jokowi resmi menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) subsidi jenis pertalite dan solar. Untuk pertalite, harga naik dari Rp7.650 menjadi Rp10 ribu per liter.

Sementara solar, harganya naik dari Rp5.150 menjadi Rp6.800 per liter. Hal ini seiring membengkaknya anggaran subsidi energi menjadi Rp502 triliun dari proyeksi awal Rp170 triliun APBN 2022.

Dari sisi kuota, pertalite dan solar kian menipis. Data PT Pertamina (Persero) menunjukkan penyaluran bahan bakar minyak (BBM) subsidi jenis pertalite telah mencapai 16,8 juta kiloliter (kl) hingga Juli 2022. Artinya, kuota pertalite hingga akhir 2022 hanya tersisa 6,25 juta kl dari total kuota yang ditetapkan tahun ini sebanyak 23,05 juta kl.

Kemudian, penyaluran BBM subsidi jenis solar juga telah mencapai 9,9 juta kl hingga Juli 2022. Sehingga sisa kuota solar hingga akhir tahun hanya tersisa 5,2 juta kl dari total kuota 15,1 kl.

Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Mohammad Faisal mengatakan kenaikan pertalite dan solar akan berimbas pada harga-harga komoditas lainnya.

Lantas, apa saja dampak kenaikan harga pertalite dan solar terhadap biaya barang dan jasa?

Biaya Transportasi

Faisal mengatakan ongkos transportasi merupakan sektor pertama yang terkena dampak dari kenaikan harga BBM subsidi.

Hal ini tidak bisa dihindari karena ongkos transportasi memang bergantung pada harga bahan bakar.

“Yang jelas dampak langsungnya ke ongkos transportasi. Itu yang paling besar dampak langsung dari kenaikan BBM,” ujar Faisal

Biaya Logistik

Faisal menjelaskan efek ikutan dari kenaikan BBM yang berimbas pada kenaikan ongkos transportasi adalah biaya logistik. Oleh karena itu biaya logistik pun terancam melambung.

“Ongkos transportasi ini terasosiasi dengan biaya logistik,” kata dia.

Harga Pangan

Faisal menuturkan harga pangan pun terancam ikut melambung jika harga BBM subsidi naik. Pasalnya, kenaikan biaya logistik tadi berkaitan erat dengan harga pangan.

Ketika biaya logistik naik, kata dia, harga pangan pun ikut melambung karena ongkos distribusinya naik.

“Ini berpengaruh pada harga barang-barang lain. Termasuk bahan pangan karena yang paling banyak diangkut via logistik,” ujar Faisal.

Inflasi Naik, Konsumsi Turun

Ekonom Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira menghitung apabila harga pertalite diasumsikan naik dari Rp7.650 per liter menjadi Rp10 ribu per liter, maka inflasi diperkirakan tembus 6 persen hingga 6,5 persen secara tahunan.

Berita lainnya :

“Dikhawatirkan menjadi inflasi yang tertinggi sejak September 2015,” ujarnya.

Kenaikan harga pertalite, sambung dia, sudah pasti akan berdampak langsung pada daya beli masyarakat. Kenaikan harga kebutuhan pokok sehari-hari tadi pun bahkan bisa meningkatkan jumlah orang miskin baru.

Menurutnya, ekonomi 40 persen kelompok rumah tangga terbawah dikhawatirkan akan semakin berat. Ditambah lagi, 64 juta UMKM bergantung pada BBM subsidi.

Bhima juga memprediksi konsumsi rumah tangga bisa melemah ke level 3,75 persen. “Konsumsi akan melemah diproyeksikan hanya tumbuh 3,75 hingga 4 persen pada semester II 2022,” kata dia.

(mrh/sfr)

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Next Post

Ramai-ramai Media Asing Soroti Kenaikan Harga BBM di Indonesia

Jakarta, MCP — Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) di Indonesia memincut […]

Like, Subribe, & Coment Now