Gang Sempit Cimahi, Ingat Jenderal Ahmad Yani- Mayjen MT Haryono di

Media Cyber Pendidikan Media Cyber Pendidikan
0 0
Read Time:2 Minute, 39 Second

Cimahi, MCP – Peristiwa Gerakan 30 September tahun 1965 atau yang lebih dikenal dengan G30S PKI menjadi noktah merah sejarah Republik Indonesia yang menyisakan trauma hingga saat ini.

Sedikit mengulas soal peristiwa yang masih banyak menyisakan misteri itu Gerakan 30 September 1965 dilakukan oleh Partai Komunis Indonesia (PKI) dan menimbulkan korban di kalangan petinggi militer.

Latar belakang peristiwa G30S PKI adalah perdebatan tentang siapa yang akan menjadi pengganti Presiden Soekarno nantinya. Hal itulah yang kemudian menyebabkan persaingan semakin tajam antara PKI dengan TNI.

Baca juga : Effendi Simbolon Vs Jenderal Dudung

Tujuh jenderal TNI menjadi korban dalam gerakan tersebut, yakni Jenderal Ahmad Yani, Mayjen R Soeprapto, Mayjen MT Haryono, Mayjen S Parman, Brigjen DI Panjaitan, Brigjen Sutoyo, dan Lettu Pierre A Tendean.

Jenazah tujuh orang itu ditemukan pada 1 Oktober 1965 oleh Resimen Para Komando Angkatan Darat di kawasan hutan karet Lubang Buaya.

Peristiwa kelam itu tetap merupakan bagian dari perjalanan bangsa Indonesia dan harus terus diingat oleh generasi masa mendatang. Hal itu juga lah yang melatarbelakangi sekawanan pemuda kreatif di Kota Cimahi menyulap dinding lusuh di gang tempat tinggal mereka menjadi media mural bergambar 7 jenderal korban G30S PKI bergelar pahlawan revolusi.

Tepatnya di Gang Haji Kodir, Cimindi, Kota Cimahi, mural bergambar Jenderal Ahmad Yani, Mayjen R Soeprapto, Mayjen MT Haryono, Mayjen S Parman, Brigjen DI Panjaitan, Brigjen Sutoyo, dan Lettu Pierre A Tendean menghiasi tembok rumah warga yang tak keberatan jadi tempat para pemuda itu menuangkan kreativitas mereka.

“Menjelang peringatan G30S PKI, kampung mural Cimindi ini kita gambar dengan sosok 7 pahlawan revolusi sebagai media edukasi dan pengingat sejarah Indonesia,” ungkap Ivan Effendi (37), salah seorang muralis kepada wartawan, Rabu (28/9/2022).

Mereka menghabiskan waktu berhari-hari dan cat kiloan beraneka warna dengan jumlah yang cukup banyak untuk menggambar wajah pahlawan revolusi itu. Sampai akhirnya jadilah mural yang sarat nilai seni dan sejarah bisa dinikmati warga serta pengendara yang lalu-lalang.

“Prosesnya menggambar mural ini sekitar 5 hari, dengan media mural panjangnya 10 meter. Jadi kita kerjakan itu dari pagi sampai jam 6 sore,” ucap Ivan.

Totalitas dan kepedulian mereka pada lingkungan agar lebih cantik dan berwarna hingga menghilangkan kesan kumuh patut diapresiasi setinggi-tingginya karena mereka merogoh kocek sendiri untuk membeli semua keperluan mural tersebut.
“Untuk biaya kita muralis swadaya, tapi ada juga sumbangan dari kepemudaan. Kemudian kita ada kencleng juga, jadi kalau yang lewat terus mau nyumbang bisa ngencleng. Habis ratusan ribu, enggak sampai jutaan,” kata Ivan.

Beruntung media untuk menuangkan kreativitas mereka tak perlu membeli. Mereka cuma diharuskan meminta izin pada sang empunya tembok supaya rela dibubuhkan gambar yang dihasilkan tangan-tangan kreatif.

“Sejauh ini mendukung, tapi kita tetap izin karena kan jadi sarana edukasi juga. Tapi kita juga butuh dukungan dari pemerintah untuk menyediakan media baru, karena kalau tembok warga kan lama-kelamaan akan habis juga,” ujar Ivan.

Baca juga :

Di Kampung Mural Cimindi sendiri hampir semua tembok milik warga yang menghadap ke jalan gang sudah disulap menjadi beragam gambar buah kreativitas Ivan dan kawan-kawan.

“Jadi kita gambar mural ini sesuai momen, misalnya menjelang G30S PKI ini kita gambar pahlawan revolusi, menjelang HUT RI beda konsep gambar lagi, jadi beda-beda jenis gambarnya. Di sepanjang gang sudah kita gambar juga,” kata Ivan.

Peringkat: 4 dari 5.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Next Post

Revisi World Bank : Belasan Juta Orang Indonesia Jatuh Miskin,

Jakarta, MCP–  Bank Dunia memperbarui hitungan paritas daya […]

Like, Subribe, & Coment Now