Catat 60.000 Orang Meninggal di Rumah Sakit Akibat Covid-19 di Cina

Media Cyber Pendidikan Media Cyber Pendidikan
0 0
Read Time:3 Minute, 30 Second

Jakarta – Cina mencatat hampir 60.000 orang meninggal di rumah sakit akibat Covid-19 sejak negara itu meninggalkan kebijakan nol-Covid bulan lalu. Sebelumnya terjadi peningkatan besar dalam jumlah kasus di negara itu yang diakibatkan mutasi virus.

Pada 8 Desember, Beijing tiba-tiba membongkar kebijakan anti-virus ketat selama tiga tahun. Selama kebijakan ketat itu dilakukan, negara melakukan pengujian, pembatasan perjalanan dan penguncian massal hingga akhirnya mendapat protes yang meluas pada akhir November dan kasus telah melonjak sejak saat itu di seluruh negara berpenduduk 1,4 miliar itu.

Seorang pejabat kesehatan mengatakan pada Sabtu bahwa demam Covid dan rawat inap darurat telah memuncak dan jumlah pasien yang dirawat di rumah sakit terus menurun. “Antara 8 Desember dan 12 Januari, jumlah kematian terkait Covid di rumah sakit China mencapai 59.938,” kata Jiao Yahui, Kepala Biro Administrasi Medis di bawah Komisi Kesehatan Nasional (NHC).

Dari kematian tersebut, 5.503 disebabkan oleh gagal napas akibat Covid dan sisanya akibat kombinasi Covid dan penyakit lain.

Baca juga : Amerika Pertahankan Persyaratan Tes Covid dari China, China Ancam Lakukan Balasan Karena Bermuatan Politis

Organisasi Kesehatan Dunia awal pekan ini menyerukan lebih banyak informasi dan menyambut baik pengumuman Beijing. WHO meminta Cina terus memperbarui data yang lebih rinci.

Direktur Jenderal Tedros Adhanom Ghebreyesus telah berbicara dengan Ma Xiaowei, Direktur Komisi Kesehatan Nasional Cina tentang wabah terbaru yang menurut WHO mirip dengan yang terlihat di negara lain. “Data yang dilaporkan menunjukkan penurunan jumlah kasus, rawat inap, dan mereka yang membutuhkan perawatan kritis,” katanya mengomentari angka Beijing.

Sementara pakar kesehatan internasional memperkirakan setidaknya 1 juta kematian terkait Covid-19 tahun ini. Cina sebelumnya melaporkan lebih dari 5.000 kematian sejak pandemi dimulai, salah satu tingkat kematian terendah di dunia.

Baca juga : Pedangdut Seksi Dulu Terkenal, Kini Jualan Ikan

Pihak berwenang telah melaporkan lima atau lebih kematian dalam sehari selama sebulan terakhir, angka yang tidak konsisten dengan antrean panjang yang terlihat di rumah duka dan jenazah yang terlihat meninggalkan rumah sakit yang penuh sesak.

Cina yang terakhir kali melaporkan angka kematian akibat Covid-19 setiap hari pada Senin, telah berulang kali membela kebenaran datanya tentang penyakit tersebut. Jiao mengatakan Cina membagi kematian terkait Covid antara kematian akibat gagal pernapasan akibat infeksi virus corona dan kematian akibat penyakit yang mendasari yang dikombinasikan dengan infeksi.

“Standar tersebut pada dasarnya sejalan dengan yang diadopsi oleh Organisasi Kesehatan Dunia dan negara-negara besar lainnya,” kata Jiao.

Bulan lalu, seorang pakar kesehatan Cina pada konferensi pers pemerintah mengatakan hanya kematian yang disebabkan oleh pneumonia dan gagal napas setelah tertular Covid yang akan diklasifikasikan sebagai kematian akibat Covid. Serangan jantung atau penyakit kardiovaskular yang menyebabkan kematian orang yang terinfeksi tidak akan mendapatkan klasifikasi tersebut.

Baca juga : Kasih Solusi, Banyak Lulusan Sarjana Susah Cari Kerja

Tren penurunan

Jiao juga mengatakan jumlah pasien yang membutuhkan perawatan darurat menurun dan jumlah pasien di klinik yang dites positif Covid-19 juga terus menurun. Jumlah kasus yang parah juga telah mencapai puncaknya dan sebagian besar pasien berusia lanjut.

Para pejabat mengatakan Cina akan memperkuat pasokan obat-obatan dan peralatan medis di daerah pedesaan dan meningkatkan pelatihan staf medis garis depan di wilayah tersebut. “Jumlah pengunjung klinik umumnya dalam tren menurun setelah puncaknya, baik di kota maupun pedesaan,” kata Jiao.

Di sisi lain, jumlah perjalanan meningkat tajam menjelang liburan Tahun Baru Imlek ketika ratusan juta orang pulang dari kota ke kota kecil dan daerah pedesaan. Itu telah memicu kekhawatiran bahwa hal itu akan membawa lonjakan kasus selama perayaan yang dimulai pada 21 Januari.

Pekan ini, WHO memperingatkan risiko yang berasal dari perjalanan liburan. Cina membuka kembali perbatasannya pada 8 Januari.

Baca juga : Miss Kroasia Nekat Tampil Seksi saat Nonton Pertandingan Piala Dunia di Qatar

Terlepas dari kekhawatiran tentang infeksi, volume penumpang udara di Cina telah pulih ke 63 persen dari level 2019 sejak musim perjalanan tahunan dimulai pada 7 Januari, kata regulator industri pada Jumat.

Kementerian Perhubungan memperkirakan volume lalu lintas penumpang melonjak 99,5 persen pada tahun ini selama migrasi festival, yang berlangsung hingga 15 Februari atau pemulihan hingga 70,3 persen dari level 2019.

Di pusat perjudian Cina Makau, 46.000 pelancong yang masuk setiap hari pada Jumat adalah jumlah tertinggi sejak pandemi dimulai. Mayoritas dari daratan dan pada Festival Musim Semi diprediksi kunjungan wisatawan akan meningkat tajam.

REUTERS



Peringkat: 5 dari 5.
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Next Post

2 Pekerja Lokal dan TKA Meninggal Akibat Bentrokan di area smelter PT Gunbuster Nickel Industri

Makassar, MCP — Bentrokan terjadi di area smelter PT […]

Like, Subribe, & Coment Now