Membangun Bandara Biaya Miliaran, Terbengkalai Tidak Terpakai

0 0
Read Time:3 Minute, 54 Second

Jakarta, MCP — Membangun bandara besar terkadang seperti dua sisi mata uang. Jika tepat, bandara bisa sangat menguntungkan seperti dapat membantu mobilitas masyarakat, pariwisata dll.
Namun jika tidak tepat, bandara tersebut bisa jadi terbengkalai dan tak terpakai. Padahal, membangun bandara perlu biaya miliaran dan prosedur yang tidak sederhana.

Dikutip dari Stuff, berikut daftar lima bandara yang mangkrak dari berbagai belahan dunia. Penyebab mangkraknya pun bermacam-macam, mulai dari sepinya pelanggan hingga pembangunan di wilayah yang tak tepat

1. Bandara Internasional Mattala Rajapaksa

Bandara yang dibuka pada 2013 ini terletak di Mattala, Sri Lanka dengan Kode International Air Transport Association (IATA) yakni HRI.

Pembangunan Bandara Internasional Mattala Rajapaksa mencapai angka $342 juta (sekitar Rp5,2 triliun) dengan kapasitas pelancong sebanyak satu juta per tahun. Namun, pada 2021 bandara ini hanya mampu memeroleh 26 ribu pelancong.

Baca juga : Pevita Pearce Sebut Pesawatnya Tidak Bisa Mendarat Di Bandara Gara-Gara Cuaca Buruk

Kesuksesan awal bandara ini dengan cepat mereda saat maskapai penerbangan meninggalkannya lantaran kurangnya permintaan pelanggan. Tidak banyak di daerah itu yang menarik wisatawan.

Bandara itu saat ini digunakan oleh maskapai domestik Sri Lanka Cinnamon Air, serta beberapa penerbangan charter. Ada harapan bahwa bandara tersebut akan melihat angka ‘rekor’ tahun ini, meskipun itu dari basis yang cukup rendah.

2. Bandara Internasional Nacala

Bandara yang dikembangkan kembali pada 2014 ini berada Nacala, Mozambik dengan kode IATA: MNC. Pembangunanya diperkirakan dari $130 juta (sekitar Rp2 triliun) hingga $325 juta. Bandara tersebut diprediksi mampu menarik pelancong sebanyak 500 ribu per tahun. Namun, hanya mampu memeroleh sebanyak 20.000.

Baca juga : Korban Akibat Jatuhnya Pesawat Maskapai Nepal, Yeti Airlines, 68 Orang Tewas

Dibangunnya kembali Bandara Internasional Nacala karena diharapkan bisa membantu menghidupkan kembali sudut timur laut negara Afrika itu, namun hal itu belum terealisasikan.

Brasil pun telah mengeluarkan biaya besar untuk pembangunnya. Sayangnya, bandara ini sepi pengunjung meski sempat dibuka dengan begitu meriah oleh Presiden Mozambik Armando Guebuza.

Hampir tidak ada penerbangan dalam tiga tahun pertama usai pembangunannya. Penyebabnya boleh jadi karena hanya ada satu maskapai penerbangan (LAM Mozambique Airlines) dan satu tujuan (Maputo) yang terdaftar.

3. Jetport Everglades

Bandara ini terletak di Florida, Amerika Serikat dengan kode IATA: TNT. Adapun pembangunnya dimulai sejak 1968, namun tak pernah selesai.

Semula, bandara ini dibangun untuk arus lalu-lintas pesawat concord dan jet supersonik yang suaranya bisa sangat mengganggu. Maka dari itu, bandara ini pun dibangun di tengah rawa. 

Selain itu, dibangun pula landasan pacu raksasa untuk menampung pesawat tersebut. Sayangnya, setelah itu pembangunan bandara terbengkalai lantaran adanya masalah lingkungan.

Baca juga : Ketua Umum PSSI Iriawan Berangkatkan Tim Nasional Indonesia ke Filipina dengan Pesawat Carter demi Efisiensi waktu

Konstruksi pun dihentikan pada tahun 1970.

Saat ini bandara tersebut bernama Bandara Pelatihan dan Transisi Dade-Collier dan selain landasan pacu, hanya ada trailer dengan kantor di dalamnya. Bandara itu telah digunakan di masa lalu sebagai fasilitas pelatihan pilot, dan juga untuk acara mobil berkecepatan tinggi.

4. Bandara Ho

Bandara ini berada di Ho, Ghana dengan kode IATA: HZO. Pembangunanya dimulai pada 2021 dengan biaya sekitar $41 juta (sekitar Rp641 miliar). Sebanyak 150 ribu pelancong per tahun diprediksi menyambangi bandara tersebut.

Akan tetapi, bandara itu ternyata hanya mampu menarik kurang dari 1000 pelancong.

Setelah peletakan batu pertama pada 2015, pembangunan selesai pada 2017. Namun, tak ada aktivitas komersil di bandara tersebut hingga 2021.

Baca juga : Inovasi Live Monitor Pesawat Tanpa Awak, Bisa Deteksi Area Aman-Bahaya Buatan Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Maskapai datang dan pergi dan kemudian berhenti sama sekali pada awal 2022. Belakangan, laporan media lokal menyebut bandara akan coba dihidupkan kembali jelang perayaan Hari Kemerdekaan Ghana ke-66.

5. Bandara Internasional Ciudad Real

Bandara ini terletak di Ciudad Real, Spanyol dengan kode IATA: CQM. Pembangunan dimulai pada 2009 dengan biaya senilai $1,9 miliar (sekitar Rp29 triliun).

Sebanyak 2 juta pelancong diprediksi melakukan aktivitas penerbangan di bandara tersebut setiap tahunnya. Namun, tak ada satu pun pelancong yang datang.

Bandara Internasional Ciudad Real dibangun untuk membantu meringankan tekanan di Bandara Barajas di ibu kota, Ciudad Real. Akan tetapi, rentetan masalah justru mendera bandara tersebut

Berita lainnya :

Mulai dari masalah lingkungan, stasiun kereta api yang tidak pernah dibangun, krisis keuangan di Spanyol dan kerumitan perjalanan dua jam ke Madrid. Rimbunan masalah itu membuat bandara Internasional Ciudad Real dijauhi penumpang.

Pemerintah Spanyol mencoba menjual bandara ini di pelelangan. Akan tetapi, hal itu tak membuahkan hasil karena sepi peminat.

Yang sedikit menggembirakan, bandara ini merupakan tempat lokasi pengambilan gambar iklan Volvo di mana Jean-Claude Van Damme melakukan split di antara dua truk yang bergerak.

(la/th)



Peringkat: 5 dari 5.
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Next Post

Gubernur Bali Surati Menkumham Cabut Visa on Arrival Warga Rusia dan Ukraina

Bali, MCP— Gubernur Bali I Wayan Koster mengusulkan kepada Kementerian […]

Like, Subribe, & Coment Now