Batalnya Indonesia Sebagai Tuan Rumah Piala Dunia U-20 2023 Jalan Tengah Dilema Pemerintah Indonesia

0 0
Read Time:2 Minute, 33 Second

Jakarta, MCP — Menko Polhukam Mahfud Md berharap sanksi dari FIFA tidak akan memberatkan persepakbolaan nasional. Hal itu disampaikan Mahfud merespons sanksi yang membayangi Indonesia setelah dicoret dari tuan rumah Piala Dunia U-20.
“Mudah-mudahan nanti sanksinya dari FIFA tidak berat bagi perkembangan sepakbola kita,” kata Mahfud usai mengisi ceramah di Masjid Kampus UGM, Minggu (2/4/2023) malam.

Seperti diketahui, pemerintah kini masih menunggu keputusan FIFA terkait sanksi yang bakal dijatuhkan setelah batal menjadi tuan rumah Piala Dunia U-20 2023

“Isyallah sanksinya tidak akan menyebabkan tidak boleh mengikuti kegiatan FIFA. Insyallah tidak sampai itu, tapi mungkin ada sanksi-sanksi lain yang kita tunggu saja,” ujarnya.

Mahfud mengajak masyarakat dan insan pecinta sepakbola optimistis menatap ke depan.

“Keputusan sudah jatuh, keputusan sudah ditetapkan. Mari kita jalan sekarang sesuai dengan keputusan yang sudah diambil oleh FIFA, dan kita tetap akan membuka pintu bermain di FIFA,” ucapnya.

Baca juga : Soal Batal Jadi Tuan Rumah dan Potensi Sanksi FIFA Piala Dunia U-20 2023, Presiden Jokowi Tunggu Laporan Ketum PSSI Erick Thohir

Dilema Pemerintah Indonesia
Mahfud juga meminta masyarakat memaklumi gagalnya Indonesia menjadi host Piala Dunia U-20. Menurutnya, pemerintah tengah dalam kondisi dilema sebelum keputusan FIFA dibuat.

“Harap dimaklumi, pemerintah terutama Pak Jokowi menghadapi dilema yang kemudian penyelesaiannya seperti sekarang ini. Masyarakat harus maklum. Adik-adik pesepakbola harus maklum, dunia politik juga harus maklum,” ujarnya.

Mahfud lalu menyinggung lagi soal sikap politik Bung Karno yang diwariskan hingga saat ini.Pada tahun 1962, kata Mahfud, Bung Karno menyelenggarakan GANEFO untuk mendukung perjuangan Palestina.

“Bung Karno pada waktu itu terpaksa harus keluar dari PBB, tidak ikut FIFA, tapi membentuk GANEFO karena dia membela Palestina. Bagi Bung Karno, Israel sebagai negara itu oke, tapi dia imperialis karena mendiskriminasi dan merampas hak-hak Palestina. Sehingga bagi Bung Karno imperialis,” urainya.

Baca juga : China Berjuang Lakukan Reunifikasi Damai Atau Kekerasan Rebut Taiwan

Selama Israel tidak memberi pengakuan dan mengembalikan wilayah Palestina kepada warga Palestina, Mahfud menambahkan, Indonesia tidak akan pernah punya hubungan diplomatik dengan Israel.

“Itu sikap dasar Bung Karno di dalam Konfernesi Asia-Afrika, di PBB, dan di dalam kebijakan politik luar negeri yang dianut sampai sekarang,” jelasnya.

Dalam perkembangannya, Mahfud berujar, Indonesia harus ikut di dalam perdamaian dunia dan pergaulan internasional antara lain melalui olahraga. Yaitu bergabung dengan FIFA demi kemajuan olahraga.

“Nah ini juga tuntutan di dalam kita bernegara, sehingga ada dilema. Kita dituntut dalam rangka melaksanakan pergaulan dunia yang aman, damai, dan bersahabat, ikut pesta sepak bola sedunia melalui FIFA,” terangnya.

Berita lainnya :


“Tetapi di sisi lain ada soal diplomasi, sehingga negara ini dihadapkan pada dilema,” sambungnya.

Mahfud menerangkan, dalam konteks Piala Dunia U-20, pemerintah sudah berupaya mencari jalan tengah. Salah satunya yakni tetap menyelenggarakan Piala Dunia U-20 namun dengan tetap berpegang pada prinsip Bung Karno. Tapi akhirnya tidak ada titik temu.

“Barangkali sebabnya lalu tidak mudah bagi pemerintah untuk melakukan itu, sudah diambil jalan tengah, ditempuh jalan tengah, akhirnya diputuskan sudah, tahun ini FIFA tidak jadi di Indonesia,” bebernya.

“Itu sudah diusahakan jalan tengah tanpa melanggar prinsip Bung Karno yang anti imperialis. Tetapi juga berusaha ikut dalam pergaulan persepakbolaan internasional,” pungkasnya.


Peringkat: 5 dari 5.
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Next Post

Kepala Staf Presiden (KSP) Moeldoko Masih Berupaya Ambil Alih Partai Demokrat

Jakarta, MCP — Ketua Umum Partai Demokrat Agus […]

Like, Subribe, & Coment Now