Wisuda Anak TK-SMP Bebani Orang Tua Siswa di Surabaya Berujung Protes

0 0
Read Time:3 Minute, 25 Second

Surabaya, MCP — Prosesi wisuda untuk merayakan kelulusan siswa TK, SD hingga SMP di Surabaya, menuai protes. Orang tua murid mengaku terbebani dengan biaya yang dipatok sekolah.
Salah seorang wali murid siswa SD di Surabaya mengatakan, dia diminta membayar Rp650 ribu, agar anaknya bisa ikut wisuda.

“Saya disuruh bayar Rp500 ribu, itu belum sama baju dan lain-lainnya,” kata wali murid yang enggan disebutkan namanya di Surabaya, kepada CNNIndonesia.com, Jumat (16/6).

Uang itu bukan jumlah yang sedikit baginya. Sebab, sehari-hari dia hanya jadi pekerja lepas dengan penghasilan tak menentu.

Ia sudah protes, namun pihak sekolah menyebut itu telah sesuai dengan kesepakatan bersama para wali murid. Dia pun mengaku terpaksa membayar uang itu.

“Saya sudah protes, tapi katanya ini sudah kesepakatan sekolah dan para wali murid. Ya, saya bisa apa,” ucapnya pasrah.

Ia berharap Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi Nadiem Makariem menghapus adanya wisuda agar tak membebani orang tua siswa. J

“Saya minta tolong ke Pak Menteri terus Pak Eri [Wali Kota Surabaya] supaya wisuda ini dihapuskan saja atau kalau bisa dibuat gratis supaya tidak memberatkan para wali murid kayak saya,” harapnya.

Ketua Komisi D DPRD Surabaya, Khusnul Khotimah mengaku mendapatkan keluhan dari sejumlah wali murid terkait prosesi wisuda tersebut.

Baca juga : KPK : Kader NASDEM Syahrul Yasin Limpo Masih Proses Lidik Kasus Korupsi di Kementerian Pertanian

Apalagi, kata Khusnul, sejumlah masyarakat masih berusaha memulihkan kondisi ekonomi pascapandemi Covid-19 dua tahun terakhir.

“Di tengah pemulihan ekonomi seperti saat ini, acara wisuda di sekolah dianggap memberatkan orang tua. Sebab biaya wisuda ini cukup mahal,” kata Khusnul, kepada awak media, Jumat (16/6).

Khusnul pun meminta agar Dinas Pendidikan (Dispendik) Kota Surabaya segera mengevaluasi dan meminta pihak sekolah, agar tidak menggelar wisuda kembali.

“Kami usulkan agar kegiatan pelepasan siswa dialihkan ke acara yang lebih mendidik dan menarik. Seperti penampilan minat dan bakat siswa,” ucapnya.

Selain wisuda, Khusnul juga meminta supaya tidak ada lagi kegiatan sekolah yang membebani orang tua. Contohnya seperti study tour, ataupun acara lain yang mengharuskan biaya tambahan.

Baca juga : KPK : Kader NASDEM Syahrul Yasin Limpo Masih Proses Lidik Kasus Korupsi di Kementerian Pertanian

“Lebih baik uangnya digunakan untuk biaya melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi. Sebab saat masuk sekolah di jenjang lebih tinggi, juga membutuhkan biaya yang tidak sedikit,” pungkasnya.

Sementara, Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya bakal mengevaluasi prosesi wisuda kelulusan siswa TK, SD hingga SMP yang terjadi di Surabaya.

Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi mengatakan, pihaknya tak pernah menginstruksikan atau menerbitkan aturan kepada sekolah untuk menggelar wisuda bagi pelajaran TK hingga SMP.

“Di Surabaya dari dulu enggak ada [kebijakan] wisuda apalagi yang [sekolah] negeri, sudah kami sampaikan sejak awal enggak ada kebijakan yang mengatakan wisuda,” kata Eri.

Meski tak ada aturan, kata Eri, bukan berarti pula pelaksanaan wisuda itu dilarang. Sebab, ada pula sekolah swasta yang menggelar wisuda karena keinginan para wali murid sendiri.

“Tetapi ada beberapa sekolah yang mengadakan [wisuda] dengan komite,” ucapnya.

Setelah dicek, ternyata para wali murid di sekolah itu juga mau bersolidaritas kepada orang tua siswa yang tak mampu, agar tetap bersama mengikuti wisuda.

“Setelah kami cek ternyata orang tua yang tidak mampu dibayarin,” ujar dia.

Pemkot tak pernah mempersoalkan ada atau tidaknya pelaksanaan wisuda, namun yang pasti gelaran itu tak boleh memberatkan dan memaksa wali murid.

“Yang penting jangan memberatkan dan jangan meminta,” tuturnya.

Pemkot Surabaya pun membuka layanan pengaduan bagi para wali murid dan siswa yang keberatan dengan biaya wisuda. Nomor layanan pengaduan itu dibuka melalui nomor 081259896163.

Berita lainnya :

“Jadi kalau ada orang tua yang keberatan atau tidak mampu tetapi dimintai uang, protes saja,” kata Eri.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Kota Surabaya Yusuf Masruh mengatakan setiap laporan yang masuk melalui layanan pengaduan itu akan langsung ditindaklanjuti pihaknya.

“Hotline sudah disiapkan, pasti saya tindaklanjuti laporannya dengan gotong royong bersama sekolah dan secara kekeluargaan. Kami usahakan yang terbaik untuk anak,” kata Yusuf.

Yusuf menyebut pelaksanaan wisuda bagi pelajar di TK, SD hingga SMP tidak perlu dilaksanakan secara meriah.

Sebab menurutnya, esensi kelulusan adalah kesiapan pelajar menghadapi jenjang pendidikan selanjutnya.

“Tidak harus memakai toga, tetapi maknanya tetap saling mengapresiasi. Disesuaikan dengan kondisi orang tua dan lainnya, jangan sampai di sekolah saling memberatkan,” pungkas Yusuf.


Peringkat: 3 dari 5.
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Next Post

Presiden Jokowi : Berbeda Nggak Apa, Tapi Jangan Berantem

Jakarta, MCP – Presiden Joko Widodo (Jokowi) memberikan […]

Like, Subribe, & Coment Now